Tak Apa Punya Satu Sahabat, Asal Selalu Ada di Saat Suka Maupun Duka


WatikamKwe - Aku adalah seorang gadis desa yang merantau ke sebuah kota tak jauh dari aku tinggal. Perjalanan yang kutempuh kira-kira 2 jam untuk sampai ke kota. Karena jarak jauh inilah aku sering sekali tak bertemu sahabat yang dari kecil selalu ada untukku. Kenalkan, namaku Kanaya. Sahabat yang selalu ada tersebut bernama Kartika. Kami selalu melakukan segala hal bersama-sama hingga satu akhirnya fase dalam hidup kami mengalami perubahan. Ya, aku harus pergi merantau untuk kuliah begitu pun dia yang juga harus merantau untuk kuliahnya.

Kuliah kami berbeda tempat dan juga berbeda provinsi. Tapi hal itu tak menjadikan persahabatan kami retak. Walaupun kami masing-masing memiliki teman baru, tetapi aku bersyukur bahwa kami masih sering berkomunikasi baik untuk menceritakan kehidupan kami masing-masing. Hingga suatu waktu akhirnya persahabatan kami pun diuji.

Waktu itu, aku sudah lulus kuliah. Aku kelimpungan ke sana kemari mencari pekerjaan. Dia selalu menyemangatiku untuk tak pantang menyerah mencari pekerjaan. Deritaku pun juga dirasakan olehnya. Dia juga membantuku untuk mencari pekerjaan yang sesuai dengan bidangku. Saat itu, temanku belum lulus karena jenjang studi yang dia ambil dalam kuliah memang mengharuskannya untuk menempuh studi setahun lebih lama dari aku. Apa pun pekerjaan sudah aku coba. Dan yang membuat aku beruntung adalah aku memiliki sahabat yang tak meninggalkan aku di saat aku berada di masa-masa terburukku.

Untuk menghiburku, sahabatku Kartika tersebut mengajak aku untuk refreshing. Asal tahu saja dia mengajakku saat aku dan dia sama-sama tidak punya uang karena aku belum bekerja dan dia masih kuliah. Dia mengajakku ke pantai dengan modal mungkin hanya bensin, jajan harga Rp5 ribu, tiket masuk ke pantai, dan uang parkir. Padahal jarak tempuh kami perjalanan pulang pergi sekitar 3 jam tapi uang yang dibawa mungkin hanya bermodalkan kurang dari Rp50 ribu.  Saat itu yang kami pikirkan hanya bersenang sebentar melepas kepenatan. Dan dia berhasil menghiburku.


Setahun berselang, aku sudah menjadi seorang editor di salah satu penerbitan besar di kota Solo. Kini, gantian temanku yang sudah lulus kuliah kelimpungan mencari pekerjaan. Setiap malam aku menyemangatinya. Aku berusaha mencarikannya pekerjaan terbaik sesuai bidangnya seperti apa yang pernah dilakukan padaku. Dia sangat bersusah payah mencari pekerjaan. Hingga akhirnya dia menyusulku ke Solo, ikut merantau denganku dan dia bekerja seadanya di dekatku selama 3 bulan.

Persahabatan kami diguncang badai saat aku tahu dia memutuskan untuk merantau ke Jakarta. Tentu saja sebagai sahabat aku ingin yang terbaik untuknya dan merelakannya untuk pergi merantau. Namun nahas, 3 bulan ia di sana, temanku tersebut justru masih menjadi pengangguran. Hampir setiap hari dia bercerita padaku ingin kembali ke Solo dan tidak mau kembali ke Jakarta. Dia akhirnya pulang. Masih sangat kesusahan, dan aku menjadi tempat curhatnya. Lalu puncaknya, dia diterima di sebuah perusahaan besar yang ada di daerahku.

Hal pertama yang dia katakan padaku saking senangnya mungkin adalah, “Woi, aku keterima kerja." Aku adalah orang pertama yang dikabarinya tentang pekerjaan baru yang ia dapatkan. Temanku itu, menjadi salah satu admin di sebuah perusahaan ekspor. Aku sangat senang untuknya.  Kami menghabiskan banyak waktu untuk saling menyemangati dan tak kenal lelah saling membahu satu sama lain.

Bagiku, tak apa jika aku punya 1 teman. Asalkan dia selalu ada di saat aku sedih maupun senang. Daripada aku harus memiliki 1.000 teman yang hanya ada dalam keadaan senangku. (vem/nda)

5 Alasan Pria Perhatian Belum Tentu Ngajak Jadian


WatikamKwe - Jadi wanita itu kadang kita terlalu perasa. Diberi perhatian dikit sama seorang pria, langsung deh mabuk kepayang rasanya. Dikasih senyuman, langsung grogi sendiri. Padahal pria yang perhatian itu belum tentu ngajak jadian.

Ngaku deh, sudah berapa kali kamu salah memahami perhatian yang diberi seorang pria? Sudah berapa kali kamu langsung dibuat jatuh hati hanya karena sebentuk perhatian? Meski susah menahan diri untuk nggak ge-er duluan, tapi coba pahami bahwa tak semua pria yang memberi perhatian itu ada niat untuk ngajak jadian.

Bisa Jadi Memang Dia Dasarnya adalah Pria yang Perhatian

Yups, ada lho pria yang memang punya sifat dasar sebagai orang yang perhatian. Dia memperlakukan semua orang di sekitarnya dengan kadar perhatian yang sama. Saking baiknya, dia bisa rela mengorbankan banyak hal demi bisa menyenangkan hati orang-orang di sekitarnya, termasuk dirimu. Jadi bukan karena dia punya perasaan lebih, tapi ya memang dasarnya saja dia orangnya suka memberi perhatian.

Dia Hanya Tak Mau Melukai Perasaanmu

Dia memberi perhatian karena memang tak ingin melukai. Tak ada niatan untuk menjauhimu, tapi juga tak ada niatan untuk menjalin hubungan lebih. Sekadar menjaga hubungan baik saja. Cuma memang kadang sifatnya yang baik itu sering disalahartikan sebagai sesuatu yang lebih.

Merasa Nyaman Berada di Dekatmu

Dia nyaman denganmu, maka dia akan selalu berusaha untuk membuatmu tenang. Saat bersamamu, dia merasa bisa menjadi dirinya sendiri. Apa yang dilakukannya pun sebenarnya tak ada yang istimewa. Demi bisa tetap menjaga hubungan tetap nyaman, dia berusaha memberikan perhatian sebaik-baiknya. Itu saja.

Kamu Memang dalam Posisi yang Butuh Diberi Perhatian

Mungkin dia memang kasihan padamu. Sebab saat ini kamu berada dalam posisi yang butuh diberi perhatian. Kamu sedang butuh pertolongan, dan dia tergerak memberi perhatian karena merasa dengan perhatian itu masalahmu bisa terasa lebih ringan. Jadi bukan karena memang ada perasaan lebih, hanya memang keadaan lah yang membuatnya merasa perlu memberimu perhatian saat ini.

Tak Ingin Melihatmu Berubah

Bisa jadi kalau ia mengajakmu jadian, kamu jadi berubah jadi sosok yang berbeda. Dan dia belum siap untuk itu. Meski mungkin perhatiannya adalah bentuk rasa sukanya padamu, tapi dia nggak mau gegabah ngajak kamu jadian. Dia hanya belum siap menerima risiko kalau nantinya kamu berubah jadi orang lain saat status hubungan berubah.

Hm, sebenarnya banyak lagi alasan seorang pria yang tampak begitu dekat nggak ngajak jadian. Sebagai wanita, kita hanya perlu tetap menjaga perasaan, ya ladies. Jangan sampai keburu ge-er padahal sebenarnya nggak ada yang istimewa juga.  (vem/nda)

Menghapus Kemiskinan Perempuan Desa


"Kami perempuan pedesaan adalah aktor strategis dalam pembangunan Indonesia. Kami telah bekerja keras sepanjang hidup kami untuk desa-desa. Kami perempuan pedesaan, telah memberikan sumbangan dalam program pengentasan kemiskinan serta kedaulatan pangan. Pantaslah jika Pemerintah mendengar pengalaman kami.” 


Watikamkwe - Tulisan di atas merupakan suara para perempuan di Nusa Tenggara Barat yang berjuang di desa untuk keluar dari kemiskinan.

Pengalaman perempuan pedesaan Nusa Tenggara Barat menunjukan bahwa mereka masih banyak mengalami buta huruf, dan hanya sedikit yang memahami program-program pertanian. Tidak jarang anak perempuan dikawinkan dengan alasan mengurangi beban keluarga.

Padahal untuk mengatasi kemiskinan, perempuan turut menggali tanah, menanam, merawat, hingga memanen dan menjual hasil kebun untuk penghasilan keluarga. Jika tanah telah habis terjual, perempuan mengambil alat tenun dan menghasilkan kain.

Dan jika ketrampilan menenun tidak dimiliki, perempuan akan berangkat ke luar Nusa Tenggara Barat dan menjadi buruh migran. Di masyarakat, perempuanlah yang menjadi pengajar Pendidikan Anak Usia Dini maupun petugas kesehatan di Posyandu. Pendidikan dan Kesehatan Dasar adalah bagian dari program Perlindungan Sosial untuk masyarakat miskin.


Kemiskinan Indonesia hari ini, adalah situasi kemiskinan yang mendalam yang terjadi di level multidimensi.

Koalisi Perempuan Indonesia (KPI) melansir data dari Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2014 menunjukan bahwa 9,1 persen penduduk Indonesia yang hidup dalam kemiskinan ekstrem, dan pada September 2016 penduduk miskin di Indonesia mencapai 27,76 juta orang atau 10,70 persen (BPS 2016).

Sementara kemiskinan yang terjadi di Nusa Tenggara Barat menunjukan angka 786,58 ribu orang (16,02 persen). Angka tersebut menjadikannya berada di antara 10 provinsi dengan jumlah kemiskinan tertinggi di Indonesia.

Situasi semakin memprihatinkan pada Maret 2017 Indeks kedalaman kemiskinan Indonesia naik 1,83 ketimbang September 2016 (1,74). Indeks Kedalaman Kemiskinan di pedesaan sebesar 2,49 dua kali lipat lebih tinggi dari perkotaan (1,24). Situasi ini mengakibatkan semakin tingginya beban program pengentasan kemiskinan dan pemberantasan kemiskinan akan semakin sulit dilakukan, terutama di pedesaan.

Dunia memperingati 17 Oktober sebagai Hari Pemberantasan Kemiskinan Internasional. Peringatan ini ditandai dengan keputusan Majelis Umum Persatuan Bangsa-bangsa (PBB) untuk mengadopsi resolusi PBB No. 47/196 pada tanggal 22 Desember 1992. Dunia menyadari bahwa bebas dari kemiskinan, hidup sejahtera dan bermartabat sebagai manusia merupakan pemenuhan hak asasi manusia, serta upaya mewujudkan masa depan manusia yang berkelanjutan.

Sekjend KPI, Dian Kartikasari mengatakan bahwa Indonesia memiliki keprihatinan yang sama soal ini, salah satunya diwujudkan dengan meratifikasi Konvensi Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Terhadap Perempuan (CEDAW), melalui UU No 7 tahun 1984, dimana Pasal 14 CEDAW mengatur tentang penghapusan diskriminasi terhadap Perempuan Pedesaan.

Sebagai anggota PBB, Indonesia juga terikat untuk melaksanakan Resolusi PBB 62/136 (12 Februari 2008) tentang Peningkatan Situasi Perempuan di Wilayah Pedesaan. Oleh karenanya, negara-negara peserta perlu melakukan upaya untuk menghapuskan kemiskinan dalam segala bentuk dengan mempertimbangkan pengalaman perempuan, dan memastikan peran serta aktif perempuan dalam pembangunan.

Pada tanggal 17 Oktober 2017, Koalisi Perempuan Indonesia di wilayah Nusa Tenggara Barat mendiskusikan situasi kemiskinan yang dialami perempuan pedesaan.

“Padahal untuk mengatasi kemiskinan, perempuan turut menggali tanah, menanam, merawat, hingga memanen dan menjual hasil kebun untuk penghasilan keluarga,” Ujar Dian Kartikasari.

Pengalaman Koalisi Perempuan menunjukkan bahwa sebagai kelompok, perempuan pedesaaan mampu mendiskusikan hak-haknya sebagai perempuan, mencari penyelesaiaan atas persoalan yang dihadapi desa, membahas isu pertanian serta soal kemasyarakatan lainnya.

Sebagai petani berkelompok, perempuan mengelola demplot dan memproduksi kacang-kacangan yang sudah terjual. Pemberdayaan perempuan sangatlah mungkin dilakukan.

“Oleh karenanya Koalisi Perempuan Indonesia menilai bahwa program pengentasan kemiskinan yang diselenggarakan pemerintah haruslah menyentuh perempuan di pedesaan. Pemberdayaan perempuan pedesaan untuk pengentasan kemiskinan mendapat peluang dari UU No 6 Tahun 2014 Tentang Desa. UU Desa memberikan harapan baru untuk mewujudkan keberadayaan Pemerintahan Desa dan masyarakat Desa. Perencanaan pembangunan desa perlu mealokasikan dana, program, dan pemberdayaan bagi perempuan pedesaan. Sehingga dapat mencapai janji pemerintah untuk mewujudkan: Membangun Indonesia dari pinggiran dan dari Desa dalam kerangka NKRI.”


Dalam memperingati hari Pemberantasan Kemiskinan, maka perempuan pedesaan di Nusa Tenggara Barat yang tergabung dengan Koalisi Perempuan Indonesia, memberikan rekomendasi pada Presiden Joko Widodo, mengakui dan menyuarakan peran strategis perempuan pedesaan dalam pembangunan di Indonesia.

Selain itu KPI juga meminta Tjahjo Kumolo, Menteri Dalam Negeri memstikan komitmen untuk menuntaskan seratus persen (100%) kepemilikan KTP dan akta kelahiran.

“Kami juga meminta Eko Putro Sandojo, Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi untuk menerbitkan peraturan Menteri tentang pengarusutamaan gender dalam implementasi undang-undang desa serta menerbitkan surat keputusan bersama untuk mengalokasikan tiga puluh persen (30%) dana desa bagi pemberdayaan perempuan dan TGH Muhammad Zainul Majdi, Gubernur Provinsi Nusa Tenggara Barat, untuk mengeluarkan peraturan Gubernur kepada para Bupati untuk mendedikasikan tiga puluh persen (30%) dari alokasi Anggaran Pembelanjaan Daerah bagi pemberdayaan perempuan di bidang pertanian dalam rangka mewujudkan kedaulatan pangan di Nusa Tenggara Barat.”

Selain itu juga meminta Pemerintah Daerah Nusa Tenggara Barat melibatkan tiga puluh persen (30%) perempuan dan perempuan disabilitas dalam perencanaan dan penyusunan program desa. Karena dengan cara inilah, Indonesia mampu memutus kemiskinan di desa. (Foto/Ilustrasi: Pixabay)

Di Dalam Persahabatan Antar Perempuan, Selalu Ada Persaingan?


WatikamKwe - Kisah sahabat WatikamKwe yang diikutsertakan dalam Lomba Menulis Kocok-Kocok Ceria ini mungkin juga dialami oleh banyak perempuan lain. Soal persahabatan dan memaknainya sebagai ikatan untuk memberi lebih banyak bermanfaat.

***

Berbicara soal girls squad, sejujurnya dulu saya sempat berpikir, apakah persahabatan yang tulus antar sesama perempuan itu benar-benar ada?

Tidakkah konon di dalam persahabatan antar perempuan akan selalu ada persaingan? Dan bukankah, karena otak perempuan lebih dominan pada otak emosi, maka konflik-konflik semacam baper, sensitif, dan bahkan yang paling menyakitkan... bermuka dua, cenderung lebih sering terjadi?

Dalam tes kepribadian online yang pernah saya ikuti, saya termasuk ENFP-T personality, namun pernah juga hasilnya adalah INFP. Ya, kadang introvert, kadang juga ekstrovert. Akibatnya, tidak selalu saya bisa benar-benar menikmati momen ramai-ramai, ngobrol-ngobrol dengan banyak orang. Kadang saya juga lebih menikmati momen-momen sendirian, tenggelam dalam buku-buku, musik, menulis, atau menonton film.

Namun saya memiliki girls squad, sekelompok teman dekat perempuan yang saya temui sepanjang masa sekolah saya sejak SMP hingga saat ini. Beberapa saya temui secara nyata, beberapa juga saya kenal melalui media virtual.

Ketika fenomena kawan jadi lawan semakin banyak, khususnya antar perempuan, maka saya semakin terusik. Sebuah pertanyaan muncul di dalam benak saya, apakah tatanan dunia ini yang membuat perempuan terus menerus merasa perempuan lain adalah pesaingnya sehingga harus dimusnahkan? Dan apa yang membuat perempuan merasa kurang memiliki ruang untuk mengekspresikan emosinya? Sehingga sindir menyindir, bermuka dua, hingga tikung-menikung lebih jamak terjadi antar perempuan dibanding antar laki-laki?

Wah, ini ngeri!


Dari sana kemudian saya berpikir untuk mengajak kawan-kawan perempuan saya melakukan suatu hal, untuk menjawab pertanyaan ini bersama-sama, yaitu dengan menulis buku tentang proses kehidupan perempuan sebagai manusia.

Kami berdua belas berproses melalui virtual group, karena jarak tempat tinggal yang tidak memungkinkan untuk selalu bisa bertatap muka. Kami mendiskusikan aneka topik, saling berbagi kisah, hingga saling memberi masukan dalam karya-karya kami. Bertengkar? Salah paham? Pasti ada, apalagi proses berkarya akan selalu melibatkan ego, pikiran dan perasaan yang tidak main-main, dan ditambah kami jarang bertatap muka. Sejauh proses berkarya yang pernah saya jalani, proses yang satu inilah yang buat saya paling menantang.

Hingga kini tidak terasa dua tahun sudah kami berproses, dan buku pertama kami diterima dengan baik oleh para pembaca yang mayoritas juga perempuan. Dan, di tahun yang kedua ini, kami melebarkan lingkaran dengan menggandeng lebih banyak lagi kawan perempuan untuk bergabung dalam "Labirin Perempuan" (demikian nama komunitas kami).

Kecintaan kami pada dunia sastra dan menulis, meskipun berangkat dari latar belakang yang berbeda-beda, mulai dari dokter hewan, guru, ibu rumah tangga, pengusaha, seniman, dan lain sebagainya, nyatanya mampu menyatukan kami dalam visi yang sama. Lagipula, kami juga berharap di luar sana perempuan-perempuan akan lebih memfokuskan diri pada karya dan apa yang bisa diperbuat bersama untuk mengubah keadaan menjadi lebih baik, bukan terus menerus bersaing dan saling menghancurkan. Mengajak perempuan-perempuan untuk lebih positif menyikapi hidup, setidaknya pada radius terkecil dimulai dari diri sendiri. Dan lagi, kami pun percaya bahwa menulis adalah terapi yang baik untuk jiwa, agar lebih lembut dalam merasakan, lebih luas dalam berpikir, dan lebih intens berkomunikasi dengan diri sendiri.

"Female friendship that works are relationship in which women help each other belong to themselves" - Louise Bernikow

Itulah kisah menarik saya dengan girls squad saya, sahabat-sahabat perempuan yang saya temui di sepanjang proses kehidupan saya. Kisah manis yang terjalin meskipun kami terbilang jarang melakukan hal-hal yang asyik seperti arisan dan nongkrong bareng dikarenakan oleh jarak. Kisah manis persahabatan yang disatukan lewat pertanyaan yang sama, ke dalam sebuah karya untuk lebih banyak lagi perempuan di luar sana.

Kalau kamu?

(vem/nda)

Provokasi Isu dan Memburuknya Kebebasan Berekspresi Perempuan


WatikamKwe - Rasa ketakutan untuk berkumpul atau mengadakan acara. Jika mengadakan acara, maka sewaktu-waktu bisa dibubarkan. Inilah rasa ketakutan yang menyergap beberapa anak-anak muda sejak pengepungan yang dilakukan di LBH Jakarta pada 16-17 September 2017 lalu.

Di luar itu, pembubaran agenda-agenda diskusi festival belok kiri, diskusi 65, diskusi keberagaman agama, pemutaran film menjadi momok yang real, terjadi saat ini.

Sejumlah catatan menunjukkan bahwa Indonesia berada di era semakin memburuknya perlindungan dan pemenuhan hak untuk berkumpul, berekspresi dan berpendapat.

Reformasi yang diperjuangkan dengan tidak mudah, kini semakin terancam dengan banyaknya peristiwa memburuknya perlindungan kebebasan berekspresi.

Komnas Perempuan mencatat bahwa provokasi massa dengan menggunakan isu kebangkitan Partai Komunis Indonesia (PKI) terus berulang dan dibiarkan. Hal ini bisa dilihat dari peristiwa pengepungan yang terjadi di LBH Jakarta pada 16-17 September 2017 kemarin.

Dalam forum tersebut para Lansia Penyintas Tragedi Kemanusiaan pada tahun 1965/1966 tidak dibenarkan mendapatkan ruang untuk saling bertemu, berbagi cerita dan saling memulihkan, meski di sisa usia mereka.

Pelarangan diskusi para Lansia Penyintas Peristiwa 1965/1966 dengan para akademisi yang terjadi pada Sabtu 16 September 2017 dan penyerangan terhadap Gedung YLBHI/LBH Jakarta pada 17 hingga 18 September 2017 usai pentas seni, yang juga dihadiri oleh beberapa Penyintas, menunjukkan semakin tertutupnya akses mereka terhadap pemulihan.

Komnas Perempuan pada tahun 2006 telah mendokumentasikan 122 kesaksian perempuan penyintas Tragedi 1965/1966, yang kini seluruhnya telah lansia, bahkan sebagian dari mereka sudah tiada.

Azriana, Ketua Komnas Perempuan memandang bahwa komitmen negara untuk penuntasan pelanggaran HAM masa lalu selalu digaungkan, namun pembiaran mobilisasi massa, atau represi yang dilakukan atas nama keamanan, telah mengkhianati hak asasi, demokrasi dan komitmen negara untuk menuntaskannya.

“Komnas Perempuan melihat ada penyebaran kebencian, stigmatisasi pada korban Tragedi ‘65 dan upaya penyangkalan yang semakin serius di publik. Sikap-sikap represif dan pembiaran organ-organ anarkis yang mengancam hak berkumpul, akan melumpuhkan demokrasi dan menumpuk jejak sejarah berdarah bangsa Indonesia, yang seharusnya diselesaikan.”

Padahal pertemuan-pertemuan yang dilakukan oleh korban dan pendampingnya selama ini, adalah sebagai upaya untuk membantu negara dalam menyelesaikan hutang sejarah pada tragedi kemanusiaan, khususnya pada tahun 1965/1966.

“Sejarah-sejarah para korban tersebut, minim terdengar karena tidak pernah diberikan ruang untuk bisa didengar secara lebih terbuka,” ujar Azriana.

Pentingnya Kritisisme Publik Atas Ujaran Kebencian

Pentingnya kritisisme publik atas berita maupun informasi yang menyulut kebencian melalui isu-isu kebangkitan PKI harus terus dilakukan, mendorong semua pihak untuk melihat sejarah dengan kritis dan mendengar suara korban.

Para Lansia Penyintas Peristiwa 1965/1966 telah menjadi korban dari Tragedi Kemanusiaan pada tahun 1965/1966, mereka harus dipenuhi haknya atas kebenaran, keadilan, pemulihan dan jaminan atas ketidakberulangan.

Di luar itu, tidak pada tempatnya menempelkan stigmatisasi terhadap perempuan 65 karena stigmatisasi ini berujung pada diskriminasi dan kekerasan.

Dalam konteks penyerangan acara diskusi di LBH Jakarta, Komnas Perempuan melihat bahwa para aparat Penegak Hukum agar segera mengusut tuntas kasus penyerangan Gedung YLBHI/LBH Jakarta, meminta pertanggungjawaban pihak-pihak yang terlibat melalui proses hukum, untuk menjamin tindakan yang sama tidak lagi berulang.

“Tindak tegas aktor-aktor yang memobilisasi massa untuk melakukan tindakan destrukrif, mengadu domba masyarakat dan melakukan politisasi yang memicu kekerasan,” ujar Azriana. (konde)

‘UNFREEDOM’ di Papua oleh Dorthea Elizabeth Ambolon

Hallo teman-teman semua, akhirnya setelah sekian lama tidak menulis, hari ini tiba-tiba ada yang harus saya tulis. Semua berawal sejak negara api menyerang. eh tidak dengan. maaf saya garing hehehe. serius sa minta maaf.

Mari serius. Jadi, di semester ini (sekarang saya semester 5) saya ambil sebuah mata kuliah yang bukan menjadi konsentrasi belajar tapi wajib di ambil. Mata kuliah Ekonomi Politik Pembangunan. dari mata kuliah tersebut saya dan teman-teman seangkatan dapat sebuah bahan bacaan yang ditulis oleh sorang penerima Nobel Memorial Prize in Economic Science, Amartya Kumar Sen. Karyanya yang kebetulan jadi bahan bacaan untuk kami adalah Development as Freedom yang memberikan kontribusi signifikan terhadap studi pembangunan.

Secara garis besar, Sen mengungkapkan kalau pembangunan harus fokus kepada human freedom. Kebebasan juga bergantung pada faktor-faktor penentu seperti pengaturan dalam sosial dan ekonomi (contohnya fasilitas untuk pendidikan dan fasilitas untuk ekonomi), dan faktor politik dan HAM (kebebasan untuk berdiskusi dalam diskusi umum atau diskusi yang lebih spesifik). Memang pendapatan individu juga penting karena menciptakan kebebasan tapi hal-hal diatas menurut Sen jauh lebih penting.

Nah, apa itu kondisi ‘UNFREEDOM’ ? Yang saya mengerti dari bacaan ini adalah, kondisi unfreedom itu kondisi dimana seseorang merasa tidak bebas karena ada faktor-faktor penentu yang membuat dia tidak bisa memenuhi kebutuhannya. Contohnya kalau punya adik Mario mau masuk di SMA yang dia sukai tapi ternyata syarat untuk masuk itu rata-rata nilai harus 10 dan biayaya pendaftaran 1 milyar. sekolah menciptakan kondisi ‘unfreedom’ untuk Mario.

Unfreedom sendiri bisa diciptakan oleh banyak hal. kalau menurut Sen itu, salah satunya dari Negara. Negara yang sering menciptakan unfreedom. Kenapa? contohnya di Indonesia bagi masyarakat Baduy  yang ingin buat KTP tapi ternyata kesulitan karena agama yang diakui di Indonesia hanya 6 sementara Suku Baduy menganut agama Sunda Wiwitan yang tidak diakui sama negara. Ini salah satu bentuk unfreedom yang diciptakan negara. Bentuk-bentuk Unfreedom sendiri seperti kelaparan, malnutrisi, akses yang kecil terhadap air bersih, kesehatan dan ketidak setaraan antara pria dan wanita.

Nah mari kita arahkan tulisan ini menuju judulnya. ‘Unfreedom di Papua’. Kita coba cek satu persatu apa saja bentuk unfreedom di Papua. Malnutrisi, masih ada. Kurangnya akses terhadap kesehatan dan pendidikan, kebebasan berbicara yang terbatas, masih ada. Bahkan dengan adanya bentuk-bentuk sebagian unfreedom inilah yang kemudian menjadi alasan utama kenapa kita masyarakat Papua memilih untuk tidak bergabung dengan you know who. Karena You know who telah menciptakan kondisi yang unfreedom bagi masyarakat Papua. Dan seperti yang kita tahu, pertumbuhan ekonomi saja tidak cukup cepat untuk memberikan kondisi freedom bagi masyarakat Papua.

Okay, pemerintah sekarang terfokus pada pembangunan di wilayah timur. Mereka mulai dengan membangun jalan sampai merenovasi pelabuhan. Yeay! kami berterima kasih karena akhirnya mulai setara. Namun, tetap saja selama kondisi sosial masyarakat Papua masih tetap tidak bebas karena tidak dipedulikan, kami akan tetap berada dalam kondisi yang tidak bebas. Negara you know what mungkin akan sangat terbantu dengan infrastruktur yang dibuat demi kepentingan ekonomi, tapi ya ini tetap akan begitu-begitu saja bagi masyarakat Papua karena memang tidak ada yang diselesaikan. Ya, beberapa akan berpikir jatuhnya kapitalisme dan beberapa punya argumen sendiri.

Menurut salah satu teori dalam Resolusi Konflik (saya juga lupa apa, nanti kalau ingat  akan buat satu tulisan terendiri mengenai teori itu.), harus ada pemahaman kebutuhan yang sama antara pemerintah dan masyarakat Papua. Makanya harus ada negosiasi atau dialog yang dilakukan oleh kedua belah pihak. Dialog digunakan untuk menggali akar permasalahan yang ada supaya ada solusi yang jelas. (jeratpapua)

Dorthea Elizabeth Frankline Eleanor K. Ambolon
Penulis adalah Mahasiswa Jurusan HI. Universitas Katolik Parahiangan Bandung.

Rektor UNTAG Surabaya: Saya Sangat Senang dan Pertama Kali di Acara Anak Papua

Saat sambutan Ibu Rektor Universitas 17 Agustus 1945 Prof. Dr. drg. Ida Aju Brahmasari, Dipl. DHE. MPA - Foto/FAP Creativity

Surabaya - Acara Beauty Papua Talent yang dilaksanakan oleh mahasiswa Papua Surabaya dari pangujuban (IKB-PMPJ) dari 21-22 Juni di gedung Komersil (Student Center) Universitas Tujuh Belas Agustus 1945 Surabaya.

Dalam kegiatan tersebut Rektor UNTAG menghadiri acara kreatifitas Mahasiswa-mahasiwi Papua ini, dan sekaligus membuka acara secara resmi.

Ibu Rektor Universitas 17 Agustus 1945 Prof. Dr. drg. Ida Aju Brahmasari, Dipl. DHE. MPA menyambut baik dan antosias dalam event Anak anak Papua ini.

Adik adik terus berkarya dan baru pertama kali saya hadiri acara Anak anak Papua dan saya sangat senang Adik-adik terus berkarya dalam pengembangan diri sebagai mahasiswa, tutur Rektor.

Setelah Ibu rektor membuka acara dan memberi Sambutan-sambutan dan dorongan, Anak-anak Papua terlihat sangat senang atas tamu mereka yang adalah orang nomor satu di kampus UNTAG tersebut.

Beauty Papua Talent: Ajang Budaya dan Kreatifitas Pemuda Papua yang ada di Surabaya

Salah Satu Peserta Beauty Papua Talent

Surabaya- Tanah Papua adalah tanah yang kaya akan kekayaan alam nan indah. Terlebih dengan kekhasan budaya yang ada di dalamnya. Kekayaan budaya terus dilestarikan oleh mahasiswa Papua dengan mengadakan pertemuan budaya yang disebut Beauty Papua Talent. Dalam ajang ini ditampilkan beberapa mata acara yakni Pop singers, Pidato, dan show model yang diadakan selama 2 hari mulai tanggal 21- 22 Juni 2017 di Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya.

Muhammad Fikser selaku Kepala Bagian Humas Pemerintah Kota Surabaya mengatakan bahwa anak-anak Mahasiswa Papua yang ada di Surabaya menyambut baik kegiatan Beauty Papua Talent karena dapat mendorong kemajuan budaya, menjalin keakraban dan kreatifitas anak-anak muda Papua. “ini acara kreatifitas dan budaya dari adik-adik Papua. Dan dalam hari ini, kita mengundang salah seorang wartawan senior untuk berbagi wawasan  tentang penulisan berita. Selain itu, adik-adik Papua ini berasal dari suku-suku pegunungan. Ke depannya, kita ingin mereka maju dalam berkarya di tanah Papua dan mereka dapat terampil dalam mengembangkan pendidikan ke arah yang lebih maju”imbuhnya.

Fikser memberikan dukungan moril kepada pemuda Papua untuk mengembangkan potensi mereka sebagai anak-anak muda yang bersemangat dalam berkarya bagi tanah leluhur. “saya berharap dan berpesan, agar anak-anak atau generasi Papua ini dapat berdisiplin, berkerja keras dalam menempuh studi mereka di Jawa serta dapat mengejar mimpi mereka ke depan. Selain itu, jangan lupa berdoa dan mengucap syukur atas segala hal yang Tuhan beri agar kelak ilmu yang mereka dapat dapat menjadi bekal yang bermanfaat bagi masa depan mereka,”tandasnya.

Nies Tabumu selaku Ketua Panitia Acara Beauty Papua Talent (pria berjas merah) bersama para panitia lainnya saat di lokasi acara

Selaras dengan Fikser, Nies Tabumi selaku ketua Panitia acara Beauty Papua Talent, menyebutkan tujuan dari acara ini untuk mempeerat persaudaraan pemuda Papua yang belajar di Surabaya dan memberikan pengetahuan baru bagi para Pemuda Papua dalam berkarya bagi nusa dan bangsa. “Dalam ajang kali ini, kami ingin mendapatkan wawasan baru mengenai berbagai ilmu bagaimana menjadi sosok jurnalis yang berhasil di bidangnya dan  entrepreneur dunia. Melalui ajang ini, kreatifitas dan aktifitas dari para pemuda Papua dapat berdampak positif bagi orang Papua di Surabaya dan bagi masyarakat Indonesia,”kata Nies.

(Pet)

Sumber: kabaremansipasi.com

Telah tumbuh, nasionalisme West Papua di kalangan pelajar


Kesadaran Papuani atau nasionalisme Papua (West Papua) sudah tidak bisa dibendung lagi, hal itu dibuktikan dengan sikap dan aksi Siswa-siswi SMP dan SMA tahun ini yang dengan lantang menghiasi pada baju seragamnya dengan tulisan, gambar, atribut bahkan bendera dibeberapa sekolah di Papua.

Indonesia tak akan bisa memadamkan api perjuangan pergerakan bangsa Papua untuk menentukan nasibnya sendiri. Karena saat ini rasa nasionalisme Papuani telah tersampai kepada para pelajar dan juga sedang bertumbuh kembang dikalangan anak muda Papua.

Demi merebut kembali kedaulatan diatas tanah Papua. Para siswa sedang berkembang roh perlawanan dari yang datang dari dalam sumsum dan hati nurani para siswa dan siswi penerus bangsa West Papua dengan melukis bendera Bintang Fajar pada seragam bagian dada dan membentengkan bendera bangsa Papua Barat. Mereka adalah Anak- anak bangsa West Papua yang sadar akan ketidakadilan yang selalu dan sedang terjadi di atas tanah Papua.

Inilah aksi mereka setelah melihat ketidakadilan diatas tanah Papua. Sikap anak Siswa-siswi ini sangat baik dan patut diapresiasi oleh semua pihak pada umumnya orang asli Papua serta semua orang yang mengiginkan Papua selamat baik tanah, laut, hutan bahkan manusia Papua.

Sikap mereka sangat jelas menunjukan bahwa (Kami bukan anak bangsa Indonesia, Kami anak Bangsa Papua). Yang ingin kedaulatan kami diakui dan siap untuk berdiri sendiri.

Foto - foto setelah lulus ujian Nasional 2017 tingkat SMA, SMK dan MA




Sumber: negnesian.blogspot.

Si Cantik dan Bintang Fajar

West Papua Girl “We Must Be Free” Location : Doyo Lama Jayapura/Photo : Whens Tebay #Papuansphoto

West Papua Girl “We Must Be Free ” Kami ingin bebas kami ingin kemerdekaan. Kemerdekaan, impian, keindahan masa depan, masa depan yang cerah, masa depan yang terbuka, masa depan yang penuh saing. Semua negara didunia ini pernah mengalaminya bahwa salah satu jalan terbaik adalah kemerdekaan keluar dari klonial-klonial yang gila dengan kekuasaan, harta dan lainnya, kini kami sedang merasakan dan ingin bebas.

Senyuman kami adalah ketulusan hati kami untuk bebas, kami ingin senyum selalu ada dan ketika Bintang Fajar dikomandokan

West Papua Girl “We Must Be Free” Location : Doyo Lama Jayapura/Photo : Stracky Yally #Papuanspho

Kami bangkit untuk menyatakan bahwa kami ingin bebas. Bintang Fajar sudah menjadi harga diri kami, kami senyum tulus ketika melihat Bintang Fajar, kami menyukai dan ingin menyatakan inilah bendera kami. Bagi kami dan perempuan Papua, perempuan sering  dianggap kaum lemah bukan berarti kami tak bisa berjuang namun kamipun bisa berjuang dengan cara kami. Ayo bangkit perempuan Papua!! [pepayablog.wordpress.com]